Jika Hatiku adalah HP Cina

Jika hatiku adalah hp Cina, sudah pasti hang karena tak kuat menahan beban cinta yang dijalaninya

Jika hatiku adalah kayu, sudah pasti lapuk dimakan waktu yang terlalu lama menunggu

Jika hatiku adalah jalan raya, tergilas roda cinta, berlubang menganga, hingga kau tak bisa melewatinya

Jika hatiku sebentuk pulsa, selalu pasti habis tak bersisa, rasakan rintihannya memanggilmu di sana

Jika hatiku sebentuk embun pagi, hilang berganti bersama matahari menjulang tinggi

Hatiku hanya segumpal darah, hangat melihat senyum di simpul bibirmu merekah

Hatiku hanya segumpal darah, mendekap tubuh sedihmu yang lelah

Hatiku hanya segumpal darah, dari DIA yang memberi anugerah, hingga aku menerima mu bertamu, menempati bagiannya yang terindah

Ners Muda Story: Chapter 1

Ini adalah catatan pertama ku yang di publish ke luar tentang likalikulakilaki dunia profesi ners yang udah memasuki trimester ke tiga. Sebuah catatan yang bakalan membuat kita memasuki sebuah dunia raba-rabaan #ehm (ngeraba denyut nadi, no piktor please…), tusuk-tusukan #ewwww (suntikan… Jangan mikir yang aneh-aneh…), pompa-pompaan #auw (mompa balon tensimeter tekanan darah…, udah, cukup!). This is my story.

Chapter One: Bungaku… Dahlia… Serba pertama biasanya sih memang punya banyak cerita, apalagi di Dahlia. Nyuntik pertama, askep pertama, dinas malam pertama… kematian pertama. Ya, aku cowok, sebenarnya masa bodoh dengan darah seberapa pun banyaknya, tapi, selain takut dengan banci, aku paling gak suka berurusan dengan kematian. Di ruang ini lah aku belajar merapikan manusia yang sudah terbujur terdiam sepi dijemput sang maut, tapi malam pertama ku di Dahlia sebenarnya juga cukup romantis. Ditemenin sama 3 cewek, temenku, si Veni -perawat_ribut, dan dua anak akper. Hohoho, gw jarang begadang bareng cewek, sekalinya bareng, gw-nya mesti ngerjain askep :( #RomansaDuniaKeperawatan.

Jam 2 lewat tengah malam, seusai ngerjain askep pasien dengan Empiema, pasien udah pada tidur, dan kami mahasiswa juga udah mau tidur. Perawat jaga sambil rebahan, lagi nonton tv, dan untuk mahasiswa udah disiapkan 2 buah kasur siap huni. Tiga temen cewek tadi udah ngatur posisi ikan sarden di atas kasur, dan… sebenarnya ada sih, satu tempat tersisa buat ku untuk rebahan, tapi seumur hidup, baru ini kali pertama aku satu tempat tidur sama cewek. Aku kan takut, kan kata Andi -anak TK sebelah-, yang kata neneknya, kalo cewek sama cowok itu tidur bareng, bisa jadi adek bayi? Yah, daripada terjadi yang ‘iya-iya lah’, aku masuk ke ruang kepala ruang Dahlia yang sementara itu sudah kosong dari manusia, entah dari yang lain. Ku pilih sebuah kursi renta yang sudah osteoporosis, rapuh… juga reyot kalo diduduki. Di tengah denting bunyi reot kursi, aku mencoba memejamkan mata.

Jam 3, udah satu jam, ne mata sebenarnya udah kayak Ahok, berattt, pengen bobo, tapi kalo lagi posisi duduk di kursi, mana bisa lelap. Aku jalan ke belakang, melewati lorong gelap, di kiri-kanannya pasien dengan penyakit khusus paru ini sudah tertidur lelap. Aku berhenti berjalan di ujung lorong sana. Di bagian belakang, di samping ruang pasien yang tadi siang wafat, ada gudang gelap penyimpanan tempat tidur pasien yang tidak terpakai plus kasurnya. Aku sebenarnya ingin tidur di situ, tapi sayang, dalam kegelapan dan kesunyian gudang ini, aku merasa ini bukan tempat yang seharusnya untuk berpejam mata. Yah, tempat tidur kosong memang banyak, tapi, ah sudahlah, tidak usah kita bahas. Aku terus berjalan ke belakang, aku ingat, di belakang ada ruang pertemuan kosong. Di tengah ruangan, tersusun 4 buah meja panjang. Ah, ini tempat yang tepat untuk beristirahat. Ku rebahkan badan, dan… Dingin, meja yang beralas kaca ini memang dingin. Rasa dingin yang sebenarnya biasa. Aku mencoba memejamkan mata, tak berapa lama, “Duak”, suara yang asing, tubuhku langsung merinding, mataku siaga menatap sekeliling. Tak jauh, seekor kucing, kucing hitam yang berjalan santai menjauhi sebuah kursi. Bukan sesuatu untuk ditakuti, dan aku melanjutkan mimpi yang terhenti. Aku terlelap, dan tiba-tiba ada yang menggenggam pundakku. Kaget, aku langsung bangun. “Bangun, mas rey, udah subuh” kata Veni. Oh, ku liat waktu di jam tangan, 5.25, udah Subuh, ya udah aku berangkat ke mesjid di depan Rumah Sakit buat sholat.

————————————— “Di mana temen kamu tidur tadi malam, Dek?” tanya perawat jaga kepada Veni. “Oh, di ruang belakang, Kak, di ruang pertemuan yang Deket gudang itu.” jawab Veni “Hah? Di situ? Berani bener, di situ kan bekas kamar jenazah???”

To Tumblr, Love Pixel Union